Pages

text berjalan

GPdI EL-ROI Jl. Ciledug Raya Ruko Mall Blok B.10 Larangan Inpres Tangerang - Banten Telp. 021-7322183

Tentang Kami




GEREJA PANTEKOSTA di INDONESIA
EL - ROI

GPdI EL-ROI yang berlokasi di sebuah Ruko Jl. Ciledug Raya Ruko Mall Blok B.10 Larangan Inpres Tangerang - Banten di berdiri di atas tanah seluas 5 m' x 15 m' dengan 3 lantai.

Di gunakan sebagai tempat Ibadah sejak  :  tgl 24 September 1994

Gembala Sidang                                           :  Pdt. Bp. Mathius Podiaro, MA, MTH
Awal pelayanan                                             :  tahun 1982 di daerah Togo Sulawesi Selatan 
Selain sebagai hamba Tuhan juga sebagai pengajar di sekolah - sekolah Alkitab Elohim di beberapa daerah di Indonesia.

Anggota Keluarga

Istri / Wakil Gembala Sidang                        :  Pdt. Ny. Aguslin Podiaro - Lassa, STH 
Anak pertama                                                 : Merry Podiaro
Anak kedua                                                     : Mekryanti Podiaro 
Anak ketiga                                                     : Pdm. Fiece Podiaro                                          

Riwayat GPdIEL-ROI


RIWAYAT PELAYANAN GPdI EL – ROI
Penggilan Ke Jakarta
Setelah melayani selama 8 tahun di daerah Togo – Sulawesi Selatan maka pada tanggal 16 April 1990, Pdt. Mathius Podiaro sudah Resmi Pindah ke Jakarta – Ciledug dengan Surat Keputusan Majelis Daerah Jawa Barat. Dengan berdoa dan meminta tanda dari Tuhan juga mimpi istri, maka kebulatan hati dan tekat untuk meninggalkan yang sudah ada; Pastori, Gereja dan Jemaat untuk kembali merintis pelayan di Larangan – Ciledug. Tepatnya pada pertengahan Juni 1990, kami sekeluarga berangkat dari Ujung Pandang dengan kapal Laut ke Jakarta.
Karena belum ada tempat, kami diterima Pdt.Yosis Mangundap di GPdI Cengkareng selama 3 minggu.

Memulai Pelayanan di Ciledug – Larangan
Tanggal 22 Juni 1990 ibadah pertama dirumah seorang ibu janda di Komplek Larangan Indah.
Tanggal 24 Juli 1990 Ibadah telah dimulai di rumah Pastori kontrakan di Jl.Teratai V No. 34 Larangan – Indah. Dengan ruangan ibadah 4x6 ruangan tamu. Beribadah ditempat ini selama kurang lebih 5 tahun. Tantangan demi tantangan dihadapi baik dari dalam maupun dari luar khususnya lingkungan setempat yang tidak setuju diadakan ibadah, tetapi oleh pertolongan Tuhan ditempat tersebut ibadah dapat berjalan selama 5 tahun, bukan karena oleh kuat dan gagah kami, tetapi semata – mata oleh kemurahan Tuhan dan pertolongan Roh Kudus, pelayanan dapat berjalan dengan baik.

            Oleh Karena jiwa terus bertambah, maka ruangan ibadah yang berukuran 4x6 sudah sesak dan panas, dan pada masa pelayanan di tempat tersebut kami juga terbantu dengan adanya seorang warga yang membantu kami dalam menghadapi warga sekitar bila ada tuntutan pembubaran tempat kami beribadah. Dan pada suatu waktu saudara kami ini mengalami jatuh sakit dan ada permintaan agar saat ibadah volume suara dikurangi agar tidak mengganggu, dikarenakan tempat tinggalnya tepat didepan pastori.
Karena itu kami bermaksud mencari tempat ibadah yang lebih memadai untuk tidak mengganggu lingkungan dan lebih bebas beribadah. Maka dengan Doa dan Puasa kami bergumul untuk hal tersebut.

Mencari Sarana Ibadah
            Dalam doa rencana kami adalah membeli rumah kontrakan itu lalu direnovasi menjadi 2 lantai. Lantai bawah untuk tempat tinggal dan lantai atas untuk ibadah tetapi biaya tidak kunjung tiba, banyak yang memberi janji untuk menolong, tetapi janji manusia semua mengecewakan. Bahkan melemahkan iman dengan kata – kata “tidak mungkin” tetapi kami tetap optimis bahwa Tuhan yang kami layani adalah Tuhan yang mampu melakukan dari yang tidak ada menjadi ada, dan itu juga pengalaman kami membangun pelayanan di Sulawesi Selatan dulu. Dan benar, apa yang tidak pernah kami duga itu yang Tuhan berikan, rencana Tuhan berbeda dengan rencana manusia.
            Singkat cerita tepatnya tanggal 24 September 1994, Tuhan pakai beberapa orang menjadi saluran berkat dengan di izinkannya kami untuk memakai Ruko sebagai tempat ibadah dalam status pinjam selama belum ada pembelinya.
Sungguh suatu hal yang tidak pernah kami duga, bahkan pemiliknya pun kami tidak kenal, dan waktu penyerahan kunci baru kami saling kenal dan mendoakannya.
Sejak kami memakai ruko ini, banyak tantangan dan masalah baru datang bertubi – tubi, tetapi Tuhan selalu membela.
            Setelah dua tahun dipinjamkan, maka kami diberi surat untuk keluar sebab sudah ada pembelinya. Saat genting seperti ini kami hanya bisa pasrah pada Tuhan. Lalu kami memberanikan diri untuk mengajukan permohonan kredit dibeberapa bank tetapi semua menolak karena kami tidak punya jaminan slip gaji kurang lebih 5juta dan deposito kurang lebih 10 juta syarat untuk mendapat pinjaman diatas 100 juta. Semua jalan buntu, dengan doa dan puasa kami ada kekuatan untuk bertahan sambil berharap pada Tuhan dan tidak putus asa.
            Kami coba lagi memohon kepada Bank dan disinilah Tuhan buka jalan untuk kami mendapatkan kredit. Dengan iman kami mengambil kredit di bank tersebut mulai tanggal 16 Juni 1997 sampai tahun 2007 (Jangka waktu 10 tahun).
Cicilan per bulan 3 – 4 juta tergantung naik turunnya suku bunga. Satu tahun pertama masih berjalan mulus, tapi sejak krismon dan kerusuhan tahun 1998 maka kredit tidak berjalan mulus sampai tahun 2000 kami diberi peringatan dari bank sebab cicilan tidak lancar dan dikembalikan pada modal awal karena bunga dan denda bertumpuk. Setelah membawa pergumulan itu kepada Tuhan maka dengan berkat yang Tuhan beri dapat meringankan sedikit beban dari Bank. Kemudian memulai kembali perhitungan kembali cicilan sampai harus ditangani pengacara yang notabene adalah seorang pengusaha yang jasanya diminta bank sebagai depkolektor dan tempat ini terancam disita. Tetapi Tuhan tidak tuli untuk mendengar doa hamba – hambaNya, di ujung jalan buntu disitu Tuhan berkarya. Depkolektor yang tadinya menekan berubah membantu separuh dari total tagihan yang harus kami bayar lunas 100 juta. Dengan pertolongan Tuhan kami dapat membayar separuhnya dan separuh dapat diurus oleh depkolektor bank tadi dengan di cicil 1 tahun. Oleh karena merasa sudah lunas maka sudah sempat mengadakan ucapan Syukur di tahun 2003  sekaligus HUT pelayanan tapi setelah lama kami menunggu surat jaminan yang disimpan di Bank tidak kunjung kami terima, kami menjadi ragu dan akhir 2004 ternyata kami mendapat surat lagi dari bank bahwa kami harus kembali membayar 20 juta sebab ternyata depkolektor tadi mendapat masalah dengan usahanya sehingga tidak dapat menyelesaikan janjinya, tak putus – putus kami bergumul dalam doa dan puasa dan Tuhan campur tangan, sisanya kami dapat menyelesaikan bulan Maret 2005.

Pelaksanaan Renovasi
Dalam perjalanan pelayanannya tempat ibadah kami ini sudah dilakukan 2 (dua) tahapan renovasi yaitu :
1.      Pada Nopember 2008 sudah dilakukan renovasi ruang ibadah di lantai 1
2.      Pada Agustus 2010 sudah dilakukan renovasi ruang pastori, kantor, kamar – kamar tamu hamba – hamba tuhan pada lantai 3 dan 4.


MAKNA GEREJA 

(Sebuah pemikiran tentang tempat ibadah)
Bicara tentang gereja, maka mungkin pikiran kita akan lebih terarah kepada gedung gereja, sebuah bangunan fisiknya. Oleh karena itu mungkin yang terbayang oleh kita adalah kemegahan gedung gereja, luas dan besar bangunannya atau indahnya interiornya, atau bahkan mungkin sebaliknya. Yang terbayang adalah betapa sederhana dan sempitnya gedung gereja. Tapi gereja bukan sekedar itu ! Yang disebut gereja terutama adalah orang-orangnya. Orang-orang yang dalam bahasa Alkitab disebut “Ekklesia” (Ek=Ex = keluar, dan Kaleo = dipanggil). Jadi orang-orang yang dipanggil keluar, yang kemudian dihimpun Allah untuk menjadi UmatNya (bdk II Petrus 2:9-10). Orang-orang yang dipanggil dan dihimpun ini, tidak lalu menjadi atau dijadikan oleh Allah sebagai kelompok yang eksklusif, yang terpisah dan tidak ada hubungan dengan dunia. Tetapi mereka dikhususkan (dikuduskan) Allah untuk menerima dan menjalankan tugas mengabarkan kasih kepada dunia ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyebut para murid atau pengikutNya sebagai garam dan terang dunia (Mat 5:13-15). Sebagai garam dan terang dunia maka sudah menjadi tugasnyalah untuk menerangi dan menggarami dunia ini. Bukan hanya bagi dirinya atau kelompoknya saja ! Gereja dan orang-orang di dalamnya tidak boleh menjadi eksklusif tapi harus inklusif untuk dapat terus mencontoh kasih Allah bagi dunia ini.
Gereja yang mana yang akan kita bangun? Gedungnyakah? Tentu tidak hanya itu. Gedung itu hanyalah salah satu sarana saja untuk menyatakan kasih Allah. Kita rindu “apa yang ada di dalamnya” yang dapat dibangun dengan baik. Kita rindu gereja kita dapat menjadi gereja yang baik yang dapat menerapkan beberapa hal yang harus ada sebagai gereja. Hal-hal tersebut adalah : (bdk Kis 4:32-37)
1.    Kerinduan umat untuk belajar Firman Allah, Firman Allah dapat menjadi “pelita” yang menerangi langkah hidup kita sehingga kita tidak tersesat di tengah kegelapan dunia ini. Dengan itu, dan jika kita senantiasa melakukan itu, maka kita akan tidak sama dengan dunia ini dan dapat menjadi contoh yang baik bagi dunia. Bagaimana kerinduan kita saat ini kepada Firman Allah?

2.    Perhatian dan kepedulian terhadap sesama itulah sebabnya gereja disebut “Persekutuan” bukan hanya kumpulan atau kerumunan. Dalam persekutuan akan selalu ada perhatian dan kepedulian terhadap orang lain, sehingga selalu ada kerelaan untuk berbagi dan saling menolong atau menopang. Tidak hanya sekedar kumpul atau berkerumun pada hari Minggu.

Untuk dapat mencapai semuanya itu, tentunya sangat diperlukan dua hal :

Yang pertama : Perencanaan
Amsal 24:18a mengatakan, “ Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat”. Terjemahan dalam KJV ” where these is no vision, people perish”. Vision atau visi menjadi sesuatu yang sangat penting, Tanpa itu kita akan hancur atau gagal. Maka perencanaan yang senatiasa kita bawa ke dalam bimbingan tangan Tuhan akan sangat menolong setiap upaya kita.

Yang kedua : Dukungan
Dukungan dalam kebersamaan kita akan menjadikan segala sesuatu lebih mudah dan mungkin dikerjakan. Dengan saling menopang dan melengkapi, maka kita yakin pekerjaan pembangunan gereja kita akan dapat terlaksana. Maka diperlukan dukungan doa, tenaga dan juga dana dari semua dan setiap kita. Kerinduan kita adalah agar gereja kita dapat menjadi :

  Gereja yang memiliki persekutuan yang akrab dan hangat.
●  Gereja yang terus bertumbuh dalam iman kepada Kristus Yesus.
Gereja  yang  melayani  setiap  orang, termasuk masyarakat di sekitar kita. Sehingga  gereja dapat menjadi berkat bagi semua orang.
Gereja  yang  memampukan  setiap orang, bukan hanya  secara  rohani  yang  terus bertumbuh, tapi yang juga memampukan setiap orang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, melawat yang sakit dan membalut yang terluka.


Gereja yang hidup adalah gereja yang "meminjam istilah Dietrich Bonhoeffer" ke dalam bermakna, ke luar relevan. Dengan kata lain, kehadirannya dirasakan tidak hanya oleh umat, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya. Gereja yang hidup, pada dirinya sendiri, adalah Injil, kabar baik, bukan hanya bagi para warga jemaat di dalamnya, tetapi juga bagi masyarakat di luar gereja. Ia seperti "oase" di tengah padang gurun dunia. Berikut ini adalah tujuh karakteristik gereja yang hidup. 

1. Visi yang jelas Visi seumpama titik terang di ujung lorong yang gelap, kepadanya segala    daya dan upaya diarahkan. Visi tidak hanya akan menjawab pertanyaan untuk apa gereja itu ada, tapi juga kemana gereja itu akan mengarah. Oleh sebab itu, gereja ada tidak sekadar "menggelinding". Padat programnya, sibuk aktivitasnya, tetapi tidak jelas maknanya. Gereja mesti tahu kemana arah tujuan dan apa yang ingin dicapai. Ia tidak berjalan bagai dalam labirin tak berujung. Dalam Amsal 29:18 versi King James dikatakan, "Where there is no vision, the people perish". Tanpa visi, rakyat binasa (Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan: "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat"). Memiliki visi seumpama anak panah yang punya sasaran bidik; titik di mana semua energi, kemampuan, dan perhatian seluruh anggota diarahkan; landasan sekaligus tujuan dari semua kegiatan dan program gereja. 

2. Struktur organisasi yang dinamis tidak ada yang meragukan peran Roh Kudus dalam gereja. Namun, hal itu bukan berarti gereja tidak perlu ditata. Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Korinstus 14:40). Struktur organisasi yang dinamis memungkinkan "aturan main" yang jelas, tegas, sekaligus terarah, sehingga gereja cepat tanggap, bereaksi secara akurat, dan berinteraksi secara tepat. Ketidakharmonisan bisa diminimalkan, potensi yang ada pun bisa disalurkan lebih efektif dan efisien untuk mencapai visi.

3. Ibadah yang hangat Guru Sekolah Minggu bertanya kepada seorang anak, "Mengapa tidak boleh berisik di gereja?" Si anak menjawab, "Karena mengganggu orang tidur!" Cerita ini memang hanya joke/lelucon, tetapi joke biasanya berangkat dari sebuah realitas tertentu. Ibadah yang hangat memungkinkan jemaat pulang dari beribadah dengan mendapatkan "sesuatu"; baik dari khotbah yang disampaikan, maupun dari suasana ibadah yang dibangun, sehingga dapat dijadikan "bekal" dalam hidup keseharian mereka.
Akan tetapi, jangan salah, ibadah yang "hidup" tidak sama dengan ibadah yang ingar bingar, penuh musik, dan sorak sorai. John Stott berpendapat tentang ibadah yang penuh kekhidmatan sekaligus penuh sukacita, yaitu ketika warga jemaat turut terlibat dengan penuh antusias; khotbah disampaikan oleh hamba Tuhan yang secara sungguh-sungguh menyiapkan dan menggumuli firman Tuhan; tim musik dan pemandu pujian yang disiapkan dengan baik.

4. Persekutuan yang akrab Relasi akrab antar warga jemaat itu penting. Relasi yang akrab akan mengikat mereka dalam sebuah persekutuan yang harmonis. Seumpama sebuah keluarga, perbedaan bisa tetap ada, bahkan juga konflik. Namun, itu semua tidak akan sampai memisahkan. Sebab ada dasar kokoh yang melandasi, yaitu kasih Kristus. Paulus sangat menekankan relasi kasih ini (Kolose 3:12-17, Filipi 2:1-11). Tuhan Yesus juga menasihatkan para murid untuk saling mengasihi (Yoh 15:12). Bahkan relasi kasih ini dikatakan sebagai identitas para murid-Nya (Yoh 15:14-16). Bisa jadi kedengarannya "klise", tetapi itulah yang harus dibangun. Tanpa dasar kasih Kristus, tidak akan ada keakraban. Ciri-ciri persekutuan yang akrab, yaitu adanya kerinduan untuk bertemu, rasa "nyaman" dan "aman" bila bersama-sama, dan ada keinginan untuk saling berbagi dan melindungi.

5. Pembinaan yang berkesinambungan dan terarah Pembinaan kelompok-kelompok di dalam jemaat (sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa) dilakukan secara berkesinambungan dan terarah; tidak sporadis; tidak berjalan sendiri-sendiri; bukan suka-suka kelompok yang bersangkutan. Begitu juga kelompok-kelompok lain, seperti persekutuan wilayah, kelompok sel, dan pendalaman Alkitab. Pertanyaan kunci guna menunjang pembinaan yang berkesinambungan dan terarah adalah apa yang mau dicapai pada masa yang akan datang. 

6. Pelayanan ke luar dan ke dalam Pelayanan yang dimaksud di sini adalah "pelayanan sosial", seperti ketika para rasul menunjuk ketujuh orang diaken dalam Kisah Para Rasul 6:1-7. Jadi, sementara para rasul fokus pada "pelayanan firman", "pelayanan sosial" tidak terabaikan. Gereja tidak semestinya hanya berkutat dengan "masalah rohani", tetapi juga perlu "menggarap pelayanan sosial"; kepada jemaat "perkunjungan, diakonia, dan sebagainya" dan kepada masyarakat di sekitar gereja : beasiswa, poliklinik, posyandu, pelatihan keterampilan, dan sebagainya. Untuk itu, gereja memerlukan inovasi-inovasi baru. Intinya adalah bagaimana agar kehadiran gereja betul-betul dapat dirasakan sebagai berkat.

7. Membawa perubahan hidup Apabila misi ke luar gereja adalah supaya semakin banyak orang merasakan sapaan kasih Allah, mengenal, dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, misi ke dalam gereja adalah menjadikan warganya memiliki sikap hidup yang "berbeda" dalam keseharian mereka di mana pun dan dalam peran apa pun. Seperti jemaat mula-mula yang tidak hanya bertumbuh di dalam, tetapi juga "bersinar" di luar. Kisah Para Rasul 2:47 menyatakan, "Dan mereka disukai semua orang." Setiap orang kristiani memiliki identitas ganda; dipanggil dari dunia dan diutus ke dalam dunia. Artinya, dipanggil untuk menjadi berbeda dari "orang dunia", tanpa menjadi terpisah dari dunia. Identitas kekristenan semestinya tidak hanya tampak dalam kehidupan ibadah, tetapi juga nyata dalam kehidupan etis. Menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-16).

Disadur dari : Sisipan Renungan Harian ditulis oleh : Ayub Yahya
Diposkan oleh Panitia Pengembangan Pembangunan GPdI EL-ROI

Proposal


PROPOSAL

PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN GEREJA





JEMAAT GPdI EL-ROI


GEREJA PANTEKOSTA DI INDONESIA
Jl. Ciledug Raya Ruko Mall Blok B.10
Larangan Inpres Tangerang - Banten



INTI PROPOSAL



  • Oleh kemurahan Tuhan Jemaat GPdI EL-ROI Larangan – Ciledug, yang di gembalakan   Pdt. Mathius Podiaro MA, MTH telah membeli ruko 3 lantai dengan ukuran 5 x 15 untuk tempat ibadah sekaligus Pastori dengan cara mencicil selama 10 tahun terhitung dari tahun 1997 – 2007.

  • Pada tahun 2009 gembala dan jemaat telah melakukan renovasi lantai 1 untuk tempat ibadah dan pada tahun 2011 telah merenovasi lantai 3 dan 4 untuk pastori, kantor dan kamar – kamar tamu hamba Tuhan. Dan dengan bertambahnya jemaat, maka kami berencana untuk memperluas tempat ibadah dan penambahan prasarananya.

  •  Adapun tahap awal kami adalah perluasan tempat ibadah dengan melakukan pembelian ruko di sebelah pastori.

KERINDUAN JEMAAT

Seiring dengan berjalannya waktu Tuhan telah mengirim banyak jiwa ke tempat kami untuk beribadah dan bersekutu. Kami melihat dengan jumlah jiwa yang ada dan kami percaya masih banyak lagi jiwa – jiwa yang akan datang ke tempat kami, berdasarkan kondisi tersebut, maka sebagai tempat ibadah yang mandiri GPdI EL-ROI Ciledug Tangerang – Banten berkerinduan :

Memiliki gedung/tempat ibadah yang lebih luas, permanen, lengkap dengan sarana dan prasarananya agar jemaat dapat beribadah dengan nyaman dan aman.

Memenuhi kebutuhan dengan segala aktifitas kegiatannya berupa fasilitas ruang ibadah yang dapat menampung ± 150 orang dimasa mendatang. 

Menata dan melengkapi kebutuhan rumah tangganya sendiri sebagai tempat ibadah  yang mandiri dan tempat perjumpaan antara Allah dan umatnya kelengkapan itu antara lain :



      1.      Ruang persiapan ibadah untuk anggota Majelis Jemaat, 
      termasuk ruang tukar/ganti pakaian pengerja/pendeta (saat kebaktian)
2.      Ruang rapat bidang-bidang pelayanan jemaat
3.    Ruang sekolah minggu anak-anak
4. Menyediakan halaman parkir yang cukup untuk menampung kendaraan motor/mobil bagi para jemaat.


ANGGARAN
Untuk tahap ini kami ingin memulai dengan perluasan tempat ibadah dengan membeli ruko di sebelah kiri pastori.
Adapun perkiraan kebutuhan dana untuk pembelian ruko tersebut adalah sebesar Rp. 800.000.000,- (Delapan Ratus Juta Rupiah)

Kami yakin partisipasi Bapak/Ibu/saudara adalah kehendak TUHAN semata, untuk pengembangan tempat ibadah bagi umat NYA yang memuliakan nama NYA. Jumlah ini terasa besar sekali bagi jemaat GPdI EL-ROI Ciledug Tangerang – Banten.
Namun demikian, kami yakin dengan campur tangan TUHAN melalui bantuan Bpk/Ibu/Sdr semua menjadi mungkin.

Adapun sumber dana yang kami harapkan adalah :
           1. Janji iman jemaat
2   2. Penjualan Kalender Th. 2013
           3. Donatur (Proposal)


Semua Sumbangan dapat ditransfer ke Rekening panitia pembangunan a/n GPdI EL-ROI di bank Mandiri KCP. Tangerang Ciledug No. 155-00-0396556-6

Besar harapan kami ,Bapak/Ibu/Saudara bisa ikut berpartisipasi bersama kami membangun Gereja Tuhan di dunia. Kiranya TUHAN YESUS sang pemilik gereja memberkati pelayanan Bapak/Ibu/Saudara/i dan kita semua.


Koresponden

1.        Pastori                                    : Bp. Pdt. Mathius Podiaro   No. Telp. 021 – 7322183
2.        Koordinator Pelaksana         : Bp. Tamba                            No. Telp. 081932163968
3.        Sekretaris                               : sdri. Elin Simatupang         No. Telp. 085692146473
4.        Bendahara                              : sdri. Mekryanti                   No. Telp. 021-90204021



KONDISI GEREJA SAAT INI














Kepanitiaan


Natal 25 Desember 2012


IBADAH NATAL + PERJAMUAN KASIH 
GPdI EL-ROI 
25 DESEMBER 2012


TEMA NATAL 
"KASIH YANG MEMULIHKAN"
YOH. 3 AYAT 16